Kamis, 19 November 2009

UN bagi Saya

Postingan UN ini sebenarnya saya tulis untuk tugas Pak Wijaya. Tapi topik ini memang membuat saya tertarik untuk menulisnya.

UN...

UN, Ujian Nasional. Membuat para siswa-termasuk saya-merinding mengingat akan menghadapinya. Kami dituntut untuk mendapat nilai tertinggi, terbaik, agar dapat menjadi murid di sekolah terbaik untuk jenjang pendidikan berikutnya. Kami harus membuktikan kami mampu dan bisa mendapatkan nilai ujian yang memuaskan.

Tapi walau banyak dikecam dan dikritik, ujian nasional tetap diadakan. Alasannya memang logis dan masuk akal. Pemerintah berpendapat jika ujian nasional tetap diadakan, para guru dan murid akan melakukan banyak persiapan bermanfaat untuk mencapai nilai maksimal.

Saya sih, tidak bermasalah dengan adanya ujian nasional. Toh, walau tidak ada ujian nasional, tetap akan ada ebtanas atau ujian lain yang setara dengan ujian nasional. Dan, banyak yang bilang, UN lebih mudah daripada UAS atau ebtanas, atau semacamnya. Tapi, walau begitu, saya tidak begitu suka tentang pendapat orang-orang tentang ujian nasional.

Banyak orang hanya menilai kepintaran dan prestasi seorang murid dari nilai UN-nya saja. Dalam memilih sekolah pun, banyak orang yang melihat dari nilai UN-nya. Padahal, masih ada tes-tes lainnya yang bisa jadi sama bobotnya dengan UN. Selain itu mata pelajaran yang diujikan hanya 4 di UN, jadi mengapa kebanyakan orang menilai prestasi seorang murid dari nilai UN-nya? Bukankah, kepintaran seorang murid tidak hanya dinilai dari nilai matematika, ipa, dan bahasanya saja?

Itulah yang saya bingung tentang UN. Saya tidak punya pandangan negatif tentang UN selain itu, dan saya sendiri memiliki pandangan positif tentang diadakannya UN, seperti lebih rajinnya para siswa untuk menghadapi UN dan memotivasi para siswa untuk mendapat nilai terbaik.

Sekian posting saya kali ini, mohon komentar jika ada pendapat lain, atau kritik.

0 komentar: